Home » , , » JANGAN ANGGAP ENTENG VIRUS CORONA ( COVID-19) - KURANGNYA PEMAHAMAN MASYARAKAT DALAM MENYIKAPI WABAH PENYAKIT COVID-19

JANGAN ANGGAP ENTENG VIRUS CORONA ( COVID-19) - KURANGNYA PEMAHAMAN MASYARAKAT DALAM MENYIKAPI WABAH PENYAKIT COVID-19

Kata simbah...
Kematian karana COVID-19.
(Jangan anggap enteng bahaya covid-19).


Saat seseorang positif terkena virus covid-19. Isteri, anak-anak, ahli keluarga atau sahabat dibatasi dan tidak boleh mendampingi pasien ketika sakit. Saat pasien mendekati kematian,  betapa terbatasnya keluarga untuk dapat menuntun kalimat ilahi terakhir atau memberi kecupan terakhir. Sakit yang bersendiri. Kematian yang sepi.

Kemudian, tiada ahli keluarga dibenarkan memandikan jenazah. Karena memandikan jenazah harus diurus oleh pihak RS yg telah ditetapkan oleh Kemenkes. Jenazah dibaluti (sealed) plastic tebal berlapis atau bahan kayu, yang tidak mudah tercemar dan itulah lapisan kafan.

Saat jenazah disemayamkan, dibatasi hanya 4 jam saja dan keluarga tidak bisa melihat jasad almarhum/ah untuk yang terakhir kali karena mayat tidak boleh dibuka kembali. Ahli keluarga hanya boleh sholat jenazah ghaib dengan prosedur khusus. Setelah itu, mayat terus dibawa ke kuburan, yang lokasinya juga harus sesuai dengan prasyarat khusus. Pihak keluarga hanya dapat turut serta dalam penguburan jenazah jika semua prosedur pengurusan jenazah telah dilaksanakan.

Sayangnya, sampai saat ini kita semua masih menganggap ringan dan sepele tentang wabah covid-19 ini. 😭😭😭😭

Kematian Paling Sunyi 😭😭😭

Mari berdoa dan memohon kepada Allah SWT, agar kita dan keluarga kita, terhindar dari wabah covid-19. Aamiin yra. 🤲🤲🤲

“Saya tak takut corona, hanya takut Allah.“ Kalimat ini kelihatannya benar dan menggambarkan keimanan yang tinggi. Lalu bagaimana dengan keimanan Baginda Nabi saw yang bersabda, “Hindarilah orang yg sakit lepra sebagaimana engkau lari dari singa.”

Apakah iman kita lebih tinggi dari keimanan Baginda Nabi..?

“Tak mungkin Allah turunkan wabah kepada orang-orang shalih.”

Kalimat ini tampak seperti benar, tapi ada kerancuan. Kalau diyakini bahwa wabah hanya akan mengenai orang kafir/ahli maksiat, lalu bagaimana dengan Sahabat mulia Muadz bin Jabal yang wafat karena wabah penyakit saat itu?

Apakah keimanan beliau lebih rendah dari keimanan kita?

“Tapi mesjid ini adalah rumah Allah, tak mungkin Allah turunkan wabah di rumah-Nya, maka fatwa para ulama itu keliru.”

Ini pun tampak manis didengar, tapi bagaimana dengan sabda Baginda Nabi, “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat."

"Ah.. Tapi tampaknya di wilayah kita aman-aman saja.”

Semoga kalimat ini benar sesuai fakta. Tapi ahli virus mengatakan bahwa Corona adalah wabah virus yang mudah tersebar dengan masa inkubasi yg cukup panjang, dan orang yang terpapar bisa menularkan lagi dalam masa inkubasi!

Nah. Ungkapan kalimat-kalimat seperti itu menyiratkan seolah kita tak percaya lagi pada otoritas pemerintahan maupun otoritas keilmuan —baik ilmu agama maupun sains. Dan ironisnya hal itu dinyatakan dengan bahasa agama.

Bukankah Allah berfirman, “Tanyakanlah kepada ahli ilmu apabila engkau tak mengetahui.”

Tak mungkin para ulama berfatwa tanpa dasar dan hujjah agama yang kuat. Mereka berfatwa dengan ilmu dan seabrek referensi.

Ayo jaga diri dan lingkungan kita dengan mengikuti protokol kesehatan dan petunjuk para ahli/ulama kita. Tetap semangat, tenang dan tak perlu panik, ikhtiar pol, berdoa maksimal dan bertawakkal!

_Wallahu a’lam bis-shawab_

‎اللهم صل على سيدنا محمد و آل سيدنا محمد

Siapa tahu bisa membantu edukasi ke masyarakat ...👆🙏🙏🙏


/>

0 komentar:

.comment-content a {display: none;}