thumbnail

PENGEMBANGAN KURIKULUM TERHADAP BAHAN AJAR PPG 2019


1.    Pengembangan Kurikulum Terhadap Bahan Ajar
Ada beberapa alasan, mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar. Beberapa alasan-alasan tersebut didasarkan antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Selain itu, pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Standar Kompetensi Lulusan (SKL) telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana strategi untuk mencapainya serta apa saja bahan ajar yang hendak digunakan merupakan kewengan penuh dari para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut sebagai pengembang kurikulum termasuk di dalamnya memiliki kemampuan dalam mengembangkan bahan ajar sendiri.
Upaya yang harus dilakukan guru ketika menyusun bahan  ajar sebagi berikut  
a.    Guru harus memilih bahan ajar sebagai upaya  penyediaan  peserta didik untuk mencapai  kompetensi yang di harapkan
b.    Pengembangan bahan apapun jenisnya, perlu mengacu pada sumber acuan utama yaitu tujuan kurikulum yang harus dikusai siswa
c.    Guru harus mempertimbangkan karakteristik siswa supaya bahan ajar dapat dipelajari dengan baik.
d.    Apabila  bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum  tidak ada  ataupun sulit diperoleh  maka membuat bahan belajar sendiri itu adalah keputusan  yang bijak  asalkan sesuai dengan karakter peserta didik
e.    Untuk mengembangangkan bahan ajar tersebut bisa diperoleh  dari berbagai sumber  baik itu dari pengalaman ataupun  pengetahuan sendiri,
f.      Walaupun   bahan ajar  yang sesuai  dengan kurikulum  cukup melimpah bukan berarti kita tidak perlu mengembangkan bahan ajar  sendiri bagi siswa, seringkali bahan ajar  yang terlalu banyak membuat mereka bingung, untuk itu maka guru perlu membuat bahan ajar yang sesuai  untuk dijadikan  pedoman bagi siswa.
g.    Guru dalam membuat bahan ajar dapat disesuaikan  dengan  sosial, budaya, geografis dan  karakteristik sasaran juga mencakup tahapan perkembangan siswa,
h.    Apabila materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak maka bahan ajar harus  mampu membantu siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak tersebut, misalnya dengan penggunaan gambar, poto, bagan, skema, dan lain-lain.
i.      Materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat berfikir siswa

2. Bagimanakah cara guru menyusun bahan ajar yang isinya mampu memenuhi kebutuhan dan kecakapan, serta ketertarikan peserta didik
Cara menyusun bahan ajar sebagai berikut :
1)   Disusun secara sistematis
2)   Memuat materi pelajaran
3)   Materinya  disusun secara runtut menurut struktur tertentu
4)   Uraiannya  mudah diikuti dan dipami pembaca
5)   Bahan ajarnya harus memuat  komponen-komponen ajar ( komponen sistem pembelajaran  yang lengkap.
6)   Dalam urain materinya  dilengkapi dengan contoh-contoh  ilustrasi dan latihan-latihan  atau tugas yang sesuai dengan dengan tujuan materi
7)   Secara tampilan dan format, bahan ajar harus menarik untuk dipelajari, konsisten ( ajeg) dan tertib pemaparannya.
8)   Disusun dengan menggunakan  bahasa sederhana
9)   Didesaain sesuai dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik yang belajar.
10)    Disampaikan dengan bahasa yang komunukatif, mudah atau pleksibel dipelajari atau di oprasikan
11)    Kriteria tentang isi harus  sesuai dengan tujuan pembelajaran akurat, mutakhir, komprehensip,
12)    cakupan isinya tepat dalam menyikapi ras dan agama, dan jenis kelamin
13)    Memuat daftar pustaka, dan indeks
14)    Kriteria penyajian  harus menyajikan materi  secara menarik perhatian anak,
15)    Materinya terorganisasi secara sistematis
16)    Terdapat petunjuk belajar,  mampu mengajak pembaca untuk merespon, Berkonsentrasi, gaya bahasanya warna dan sebagainya,
17)    Kriteria tentang ilistrasi harus memuat ilustrasi yang sesuai, terkait dengan teks, ilustrasi

3.    Cara Menilai Keunggulan, Keterbatasan, dan Kesesuaian bahan ajar yang telah di susun?
Bahan ajar merupakan perangkat mengajar yang digunakan oleh guru/dosen dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bahan ajar memiliki beberapa keunggulan, namun juga memiliki keterbatasan, dari bahan ajar yang saya susun ada beberapa keunggulan, keterbatasan dan kesesuaian
A.   Cara menilai  Kesesuain bahan ajar  di lihat dari
a.    Kelayakan isi
1)   Kesesuaian dengan SK KD
2)   Kesesuaian dengan perkembangan anak
3)   Kesesuaian dengan kebutuihan bahan ajar
4)   Kebenaran subtansi  materi pembelajaran
5)   Kesesuaian dengan nilai moral dan sosial
6)   Relavan atau tidak  dengan kurikulum dalam hal tujuan dan cara pencapainnya
b.   Komponen Kebahasaan
1)   Kejelasan informasi
2)   Kesesuian dengan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar
3)   Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efesien jelas dan singkat
c.    Komponen penyajian
1)   Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin di capai
2)   Urutan sajian
3)   Pemberian motivasi dan daya tarik
4)   Interaksi (pemberian stimuls dan respon
5)   Kelengkapan informasi
d.    Komponen kegrafikan
1)   Penggunaan font jenis dan ukuran
2)   Lay out atau tata letak
3)   Ilustrasi atau gambar foto
4)   Desain tampilan
B.   Keterbatasan bahan ajar
1)   Membutuhkan keahlian tertentu  dalam menyusun bahan ajar yang baik, bahan ajar yang baik  tridak hanya berisi tujuan dan alat ukur pencapainnya saja namun juga tertulis tentang pengalaman belajar siswa
2)    Membutuhkan manajemen pendidikan yang berbeda dibanding pembelajaran konvensional, karena sulit menentukan proses penjadwalan dan kelulusan masing-masing siswa yang memiliki kemampuan yang beragam
3)   Membutuhkan sumber belajar pendukung yang sangat mahal dibanding pembelajaran konvensional
C.    Keunggulan Bahan ajar yang telah di susun
1)   Berpusat pada kemampuan siswa yang beragam. 
2)   Memiliki kontrol terhadap pencapaian hasil belajar. 
3)   Memiliki relevansi dengan kurikulum dalam hal tujuan dan cara pencapaiannya.







thumbnail

PENGORGANISASIAN INFORMASI PENGETAHUAN DALAM INGATAN MANUSIA


PENGGORGANISASIAN INFORMASI /PENGETAHUAN  DALAM INGATAN MANUSIA

MAKALAH

Sebagai salah satu tugas Akhir Modul 3 dalam  Pendidikan Profesi Guru (PPG)





 
Oleh;
INDRA HADIAT PERMANA




PROGRAM PENDIDIKAN  PROFESI GURU DALAM JABATAN 
MATA PELAJARAN BAHASA INDOESIA
UNIVERSITAS PASUNDAN  BANDUNG
2019




BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Abad 21 adalah Era dimana perkembangan informasi yang sangat cepat dengan adanya berbagai media digital yang telah tersedia. Pembelajaran abad 21 pun tidak seperti era sebelumnya yang hanya berpusat pada guru dan buku sebagai sumber belajar. Informasi pada abad 21 telah tersedia dimanapun dan kapanpun melalui jaringan internet dan teknologi digital.
 Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku  yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan proses mendapatkan pengetahun, keterampilan, nilai-nilai, pilihan atau pemahaman-pemahan yang baru yang melibatkan proses sintesis dari jenis informasi yang berbeda-beda hal ini dikarnakan belajar sangat ditentukan oleh penggorganisasian informasi dalam ingatan manusia.
Berpikir  adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Proses berpikir merupakan proses yang kompleks dan tidak dapat dilihat secara langsung bagaimana otak bekerja dan informasi diolah. Informasi yang diterima melalui alat indera akan dipersepsikan oleh bagian-bagian yang berfungsi secara khusus. Berpikir juga dapat dikatakan sebagai proses pengorganisasian informasi dalam ingatan. Berpikir mencakup banyak aktivitas mental. Berpikir dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan.
Teori pemrosesan informasi didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting. Dalam proses pembelajaran terjadi adanya proses informasi kemudian diolah sehingga menciptakan suasanya yang terencana, dan suasana pembelajaran yang mendukung (Ellen, 2016:225). Teori pemrosesan informasi ini merupakan teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menjelasakan penggorganisasian  informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses dalam otak melalui beberapa indera.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
“Bagaimanakah pengorganisasan informasi atau pengetahuan  dalam ingatan manusia?”
C.     Tujuan
       Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah Supaya kita dapat mengetahui dan memahami pengorganisasian informasi dalam ingatan manusia

D.     Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang
b.      Rumusan Masalah
c.      Batasan Masalah
d.      Tujuan Penulisan
e.      Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
a.   Pengorganisasian Informasi Dalam Ingatan Manusia
b.   Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi
BAB III Penutup
a.   Simpulan
b.   Saran
DAFTAR PUSTAKA






BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengorganisasian Informasi dalam Ingatan Manusia
               Informasi mencakup pengetahuan apapun yang terrekam dalam buku, artikel majalah,flm, video ataupun pengetahuan yang disampaikan secara lisan dalam suatu percakapan, ceramah, pidato dan sebaginya. Dengan adanya pengorganisasian informasi, individu dapat terbantu untuk menyimpan, mengorganisasi, dan mengungkapkan kembali informasi tersebut Ingatan manusia dibagi menjadi dua, yaitu; memori Jangka Pendek (Short Term Memory atau STM): Memori yang memiliki kapasitas terbatas dan hanya berlangsung selama 20-30 detik dalam keberadaannya; dan Memori Jangka Panjang (Long Term Memory atau LTM): Memori yang tidak memiliki batasan kapasitas dan berlangsung mulai dari hitungan menit hingga selamanya (Rehalat, 2014). Ingatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai alat (daya batin) untuk mengingat atau menyimpan sesuatu yang pernah diketahui (dipahami, dipelajari, dan sebagainya). Informasi yang kita peroleh terekam di dalam ingatan melalui proses berpikir.
              Informasi yang masuk kemudian diproses dan tersimpan berkaitan erat dengan kemampuan kognisi seseorang (Frishammar, 2002). Dengan kata lain, pemrosesan informasi dipengaruhi oleh faktor memori dan kognisi termasuk kecerdasan seseorang (Frishammar, 2002). Resnick (1981) berpendapat bahwa dalam psikologi pemrosesan informasi memfokuskan pada struktur pengetahuan dan pada mekanisme dimana pengetahuan dimanipulasi, ditransformasi dan dihasilkan dari proses beberapa pemecahan masalah. Pemrosesan informasi didalam pikiran berlangsung terus-menerus selama adanya informasi baru yang masuk dalam pikiran.
              Komponen pemrosesan informasi dipilah berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya. Komponen tersebut adalah:
1.   Sensory Memory (SM)
Sensory Memory (SM) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SM informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, bertahan dalam waktu sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu atau berganti.
2.   Working Memory (WM)
Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu. Karakteristik WM adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik tanpa pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
3.   Short Term Memory (STM)
Short Term Memory (STM) atau memori  jangka  pendek  memiliki  kapasitas yang kecil sekali, namun sangat besar  peranannya  dalam  proses  memori,  yang  merupakan tempat dimana kita memproses  stimulus yang berasal dari lingkungan kita.
4.   Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory (LTM) diasumsikan; (a) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki individu; (b) mempunyai kapasitas tidak terbatas; ( c) sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.


          Teori proses masuknya rangsangan ke penyimpanan dan ingatan digambarkan sebagai berikut (Surgenor, 2010):

              Stimulus yang masuk melalui pancaindra diterima oleh Sensory Memory, sensory memory menyimpan semua informasi sensorik (visual, pendengaran, penciuman, dan haptic) untuk periode yang sangat singkat dalam bentuk sensoriknya yang mentah. Melalui perhatian yang selektif (selective attention) informasi dipindahkan ke dalam kesadaran dan memori jangka pendek (short term memory), sedangkan informasi yang tidak lolos attention dilupakan. Hubungan antara memori jangka pendek dan memori kerja (working memory) masih belum jelas namun diibaratkan jika memori jangka pendek adalah memori sadar maka maka memori kerja adalah setara dengan catatan post-it. Selanjutnya dengan rehearsal and encoding informasi yang telah dipelajari disimpan di memori jangka panjag (Long Term Memory).
              Contohnya saat kita ingin mengingat nomor telepon. Sebagai stimulus awal nomor telepon ditangkap oleh pancaindra (bisa melalui telinga jika dalam bentuk suara, atapun mata jika dalam bentuk tulisan). Nomor telepon yang ditangkap melalui pancaindra disimpan di working memory. Saat kita mengingat nomor telepon untuk sesaat berarti kita menyimpannya di short term memory. Ketika kita mengulang secara verbal secara terus menerus dan sewaktu-waktu kerap diulang kembali (recalling) nomor tersebut akan disimpan di memori jangka panjang (long term memory).

              Adapun implikasi teori pemrosesan informasi terhadap kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.   Model pemrosesan informasi dari belajar dan ingatan memiliki signifikasi yang besar bagi perencanaan dan desain pembelajaran dalam proses pendidikan. Belajar dimulai dengan pemasukan stimulasi dari reseptor dan diakhiri dengan umpan balik yang mengikuti performa pembelajar.
2.   Secara keseluruhan stimulasi yang diberikan kepada pembelajar selama pembelajaran berfungsi mendukung yang terjadi pada pembelajaran.




BAB III
PENUTUP

A.   Simpulan
             Simpulan dari makalah ini adalah Pemrosesan informasi di dalam pikiran berlangsung terus-menerus selama adanya informasi baru yang masuk dalam pikiran. Psikologi pemrosesan informasi memfokuskan pada struktur pengetahuan dan pada mekanisme dimana pengetahuan dimanipulasi, ditransformasi dan dihasilkan dari proses beberapa pemecahan masalah.         Stimulus yang masuk melalui pancaindra diterima oleh sensory memory. Sensory memory menyimpan semua informasi sensorik (visual, pendengaran, penciuman, dan haptic) untuk periode yang sangat singkat dalam bentuk sensoriknya yang mentah.  Sifat informasi yang mudah diingat oleh manusia yaitu informasi yang unik, bermuatan emosi, dan kedetailan
Melalui perhatian yang selektif (selective attention) informasi dipindahkan ke dalam kesadaran dan memori jangka pendek (short term memory), sedangkan informasi yang tidak lolos attention dilupakan. Hubungan antara memori jangka pendek dan memori kerja (working memory) masih belum jelas namun diibaratkan jika memori jangka pendek adalah memori sadar maka maka memori kerja adalah setara dengan catatan post-it. Selanjutnya dengan rehearsal dan encoding informasi yang telah dipelajari disimpan di memori jangka panjag (long term memory)
.
B.     Saran
Jadi saran yang tepat dalam menyampaikan informasi harus disampaikan dengan cara unik dan kreatif melalui audiovisual atau cara lainnya suapaya menarik perhatian dan mudah di ingat, karena sesuatu yang menarik itu membekas dalam ingatan




DAFTAR PUSTAKA

Anderson, B.F. 1980. The Complete Thinker: A Handbook of Theniques For Creative and Critical Problem Solving. New Jersey: Englewood Cliffs
Muhibbin Syah. 2001. Psikologi belajar. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.
Rasyad, A. 2003. Teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Uhamka Press.
Wardani, I.G.A.K. 2011. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta:Universitas Terbuka


             


.comment-content a {display: none;}