Home » » PENDIDIKAN ADALAH SINAR UNTUK MENERANGI KEGELAPAN

PENDIDIKAN ADALAH SINAR UNTUK MENERANGI KEGELAPAN

Ada harapan di balik senyum dan tawa mereka, aku yakin suatu saat mereka akan mendapatkan kesempatan yang sama. Awalnya memang sulit dan aku merasa apakah aku bisa beradaptasi dengan mereka?
Tahun ini, tahun pertama aku benar-benar terjun dalam dunia pendidikan. Ini semua terjadi ketika aku berusaha mencari pekerjaan, karena memang aku ingin sekali megajar , tahun ini adalah kesempatanku untuk mengenal lebih jauh tentang dunia pendidikan.
Aku mengajar di sebuah sekolah yang terpencil, di sebuah desa di pegunungan dan jauh dari kota. Awalnya aku merasa tak sanggup melawati jalannya yag seperti ninja hatori, kemampuanku dalam mengendarai sepeda motor sangat minim. Nekat saja, bahwa aku bisa melewati jalan itu, dan sampai di sekolah dengan harapan selamat. Sekolahnya memang kecil, muridnya baru 2 kelas. Sekolah SMP satu-satunya di tempat itu. Kadang aku berpikir jika nanti mereka lulus, bagaimana mereka melanjutkan ke SMA. berat memang mengajar di sana, kyrangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, menjadi kerja keras yang utama ketika mengajar. Guru-guru di sana, pengetahuan dan daya ingat mereka sangat minim, tiap ulangan pasti mendapat nilai do re mi. mendengar hal itu, aku merasa kaget dan aku sendiri gak mau anak-anak nilainya do re mi. aku siapkan strategi mengajarku agar daya ingat anak-anak tidak mudah lupa, setiap selesai pembasahan tiap anak aku Tanya, setiap selesai pelajaran tidak lupa aku memberikan PR kepada mereka. Alhasil memang benar saja, bahkan mereka selelu lupa mengerjakan PR yang aku berikan. Rasanya kecewa anak-anak kurang respon, apa mungkin caraku ada yang salah? Satu kali kesalahan aku maafkan, karena dua kali masih melakukan kesalahan maka aku akan menghukum mereka dengan lari di lapangan. Yah sedikit berhasil memang, mereka mengerjakan tugas. Tapi dari 5 soal yang ak berikan rata-rata hanya mengerjakan 2 soal saja. Aku imin-imingi hadiah bagi anak terajin akan mendapat hadiah special dan nilai yang bagus. Akhirnya PR pn di kerjakan dan alhasil sebagian dari anak berhasil dengan benar mnegerjakan tugas yang saya berikan. Tiba saatnya ulangan tiba, aku percaya diri bahwa nilai mereka akan bagus. Anak-anak menyambut dengan gembira akan adanya ulangan. Memang saya percaya mereka bisa, dan pada kahirnya saat ulangan berjalan, aku melihat beberapa anak yang begitu kesulitan mengerjakan soal. “bu aku tak mengahapal! Aku lupa semua rumus nya”
Aku hanya tersenyum, dan berkata “ibu sudah memberi tahu, kerjakan dengan serius”. Aku benar-benar heran kenapa bisa begini, kenapa mereka begitu kesulitan, apa benar yang di katakana guru-guru yang lain. Dengan sabar aku menunggu anak-anak mengerjakan tugas. Tingkahya banyak yang aneh kadang nyeleneh dan bikin geli di hati, yang satu duduk di lantai sambil berpikir. Yang satu menjeduk-jedukan kepala ke meja, dan yang lainnya ada juga yang gigit-gigit pulpen. Harapan untuk melihat mereka mendapat nilai bagus pupus, melihat mereka begitu saja aku agak kecewa, antusias penyambutanpun rasanya gimana gitu?
Saat aku pulang ke rumah, menilai hasil ulangan mereka bukan hanya nilai do re mi saja. Rata-rata nilai mereka mendapatkan nilai donat. Kecewa ku memuncak, merasa gagal mendidik mereka. Merasa gak berguna datang dari jauh, perjalanan satu jam, hanya sedikit saja anak yang mengerti tentang pelajaran ini. Sungguh membuat bingung.
Hari berikutnya aku pergi ke sekolah, rasa kecewa di selimuti marah hilang begitu saja ketika melihat mereka tersenyum, sudahlah marahnya tak jadi. Aku hanya mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mengikuti remedial. Tapi aku ganti bukan tes tertulis rugi nanti dapat nilai yang begitu lagi, kali ini aku ganti jadi tes lisan. Hari itu aku bahas semua soal yang menjadi soal ulangan pertama pada anak-anak. Semua terasa mudah, tapi anak-anak hanya bilang “oh aku lupa, aku menyesal tidak menghapal dan lain sebagainya”
Karena masih kecewa akhirnya unek-unek pun keluar, aku banyak bicara hari itu, dan anak-anak hanya diam “ mana bisa kalian mendapat nilai do re mi, sementara ibu telah memberikan materi dan latihan-latihan pada kalian, kita memang disini di tempat yang jauh dari kota. Tapi jika kalian punya mimpi dan harapan akan masa depan, kalian bisa menggapai impian kalian dan meraih cita-cita kalian. Dan semua orang akan tahu siapa kalian, apa kalian punya cita-cita? Apa kalian tidak ingin bangkit dari keterpurukan. Ini saatnya kalian belajar dengan sungguh, kelak kalian akan menggapai apa yang kalian impikan. Tolong kerja samanya, ibu datang dari jauh untuk membimbing kalian, sampai ibu kecelakan di jalan di serempet mobil hingga terguling, ibu saja yang datang dari jauh 1 jam perjalanan, begitu semangat mengajar kalian. Kalian begitu mudah bilang aku tak menghapal, aku lupan dan ini itu. Ilmu yang saat ini kalian pelajari adalah untuk kalian, ibu percaya kalian bisa menjadi orang besar asal kalian peduli terhadap pendidikan kalian. Dan bukankah Allah Swt mewajibkan kita untuk menuntut ilmu? Ibu harap kalian serius, jika nilainya begini lagi ibu tak akan menolong kalian lagi, jika tidak naik kelas kalian sendiri yang akan malu”.

Aku masih penasaran kenapa anak-anak begitu tidak memperdulikan pendidikan. Pak Ayi bilang, kebanyaka anak-anak berasal dari kelurga yang berantakan, latar belakang mereka rata-rata berasal dari keluarga kurang berada dengan kehidupan yang kurang harmonis di rumah. Mendengar itu aku agaknya memang harus bersabar dan bersikap lembut, aku berfikir aku harus jadi sahabat mereka dulu, aku akan membuat mereka nyaman dahulu dengan begitu barang kali mereka akan senang belajar dengan aku. Akhirnya aku mendekati mereka dengan caraku, memberi perhatian dan jika ada yang nakal, aku tahan untuk marah. Remidi pun telah tiba. Sebelum tes lisan, aku menuyuruh semua anak keluar dari ruangan kelas, hanya anak yang di panggil yang berada di kelas. Tiap anak aku Tanya hal yang sama mengapa tidak menghapal? Mengapa nilai nya kecil? Dan mengapa mereka tidak menegrti, sedikit banyak aku bertanya keadaannya di rumah. Karena memang mereka polos barangkali aka nada yang jujur dengan pertanyaanku. Ketika tes lisan berlangsung tiap anak berhasil menjawab pertanyaanku, meski wajah mereka terlihat tegang. Hanya ada satu anak yang aku belum bisa membaca, aku kaget anak SMP kelas 1 belum bisa membaca. Aku mengajarkan dia untuk mengeja abjad, belajar menulis. Aneh anak usia 14 tahun bisa membaca, dia terlihat normal. Tapi masih belum terjawab alasan detailnya. Saat ini aku masih mempelajari kasus buta hurup tapi bisa masuk ke SMP. Sementara setelah remidi, anak-anak semakin rajin. Setiap habis pelajaran aku memberikan pertanyaan, dan mereak lebih rajin dan tidak pelupa lagi. Hanya satu anak yang belum menegrti. Bagaimana bisa membaca dan menulis saja tidak bisa, berhitung 3+3 saja masih belum bisa, aku masih ingin lebih tahu kenapa dia begitu. Tapi jika di kelas dia diam, tapi jika di luar kelas dia nakal, bahkan ketika aku mengajar kelas 2 dengan tidak sopan dia masuk ke kelas dan keluar lagi. Anak itu masih membingungkan, dan aku ingin tahu kenapa bisa begini? Tapi aku perlu waktu untuk mnegetahuinya, perlu pendekatan khusus, aku harus bisa menemukan alasannya dan cara menegajarnya. Sebenarnya aku kecewa sama sekolah SD yang meluluskan anak yang masih buta hurup. Ini adalah tugas guru, dan berat bukan Cuma menyampaikan dan memeberi nilai lalu meluluskan, ini tanggung jawab kita. Bagaimana bisa anak seperti ini dinyatakan lulus dan merasa kesulitan belajar di SMP. Aku masih mencari tahu mengapa bisa begini, sementara anak yang lain begitu antusias belajar, anak ini masih kelihatan tak peduli dengan semua mata pelajaran. Meski mengajar IPA tak ada salahnya aku mengajarkan dia membaca daripada dia tak mengerti semumur hidup. Ini tugas kita, tapi kesadaran akan pendidikan adalah tanggung jawab masing-masing. Kalo gak sadar-sadar ya kita berusaha untuk mengingatkan. Jika aku berhasil mencari tahu dan memecahkan masalah anak buta hurup bisa masuk SMP, nanti akan di bagikan disini agar kita sama-sama membrantas kebodohan dan buta hurup. Pendidikan adalah salah satu kunci memajukan bangsa, dan pendidika juga mampu mengusir kemiskinan. Jika kita sadar akan pentingnya pendidikan, maka ekonomi pun tidak akan sesulit ini. Sepertinya seperti itu, karena lingkungan di tempat itu minimnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, dan ekonomi mereka di bawah rata-rata. Semoga bisa berhasil merubah pola pikir mereka tentang apa yang mereka yakini, bahwa makan tak butuh ilmu. Salah harus di luruskan ini


/>

0 komentar:

.comment-content a {display: none;}