Home » , » KAPAN NIKAH? - PERTANYAAN KEPO YANG BIKIN GREGETAN

KAPAN NIKAH? - PERTANYAAN KEPO YANG BIKIN GREGETAN

Ini tentang kesunyian hati, tentang kekosongan dalam tiap ruangan hati yang sendu. Aku melangkah tanpa ada seseorang yang menemani perjalanan hidupku, aku masih bertahan sendiri melawan waktu. Tiba-tiba aku bertemu dengan sahabatku, dia sudah memiliki anak, dia bertanya “ kapan kamu menyusul?” aku tak menjawab hanya tersenyum sesaat. Lalu dia berkata “kamu terlalu banyak memilih terlalu sibuk mencari yang sempurna!” aku enggan menanggapinya. Lalu dalam hati aku berkata, mungkin mereka tidak pernah tahu, bahwa aku pun telah berusaha mencari pendamping yang mau menerima aku apa adanya, aku mengukur diri tak ada makhluk yang sempurna dan aku pun jauh dari kata sempurna. Setiap kali aku bertemu pasti mereka bertanya “ kapan menikah, ko betah hidup sendirian?” bosan seringkali aku ingin menjawabnya, namun toh mereka juga tidak akan mengerti. Terlalu sering mereka bertanya membuatku jadi tambah bingung dan bertanya sendiri “ kapan aku bertemu dengan jodohku?”. Semua orang pasti akan mengalami pertanyaan tersebut. Pernah suatu ketika, aku berjalan dengan adik kelasku tiba-tiba dia nyeloteh sangat tidak sopan menurutku “ kakak, ko aneh ya sepertinya gak mikir gitu, usia segini belum nikah”. Dalam hati aku berkata aduh ini anak ngomong sembarangan. Lalu aku menjawab “ bukannya gak mikir, kita cari dan berdoa sudah cukup namun tak perlu menyesali diri dan terlihat bodoh karena menunggu jodoh yang belum kunjung datang” Lalu dia berkata “ iya si kak, tapi temen kakak yang itu aneh belum nikah seperti orang stress, mikir yang .aneh- aneh nulis status yang lebay-lebay.” Lalu aku menjawab “ ya memang setiap orang bebas berekspresi, mungkin dia nulis status karena rasa kesepian, ingin mendapat tanggapan dari orang lain, atau ya memang nyamannya seperti itu. Setiap orang kan berbeda, bukan berarti aku tak menulis status yang alay aku gak mikir itu kembali ke masing-masing orang.” Lalu dia terdiam, aku dulu biasa saja, tak pernah gelisah dengan yang namanya jodoh. Namun seiring usia bertambah, kicauan tetangga dan teman-teman aku merasa tertekan sendiri terasa waktu begitu menghimpit seolah tak ada kesempatan untuk bergerak dan merasa seperti nenek-nenek yang tak berhak mendapatkan kesempatan untuk mengecup manisnya hidup. Di tambah kakakku yang bawel, hari libur kerja biasanya aku tidur panjang, kakakku marah-marah karena orang seperti aku harusnya main, aku bingung semua terasa begitu kacau. Lalu dia berkata “ kamu sudah tidak bisa santei-santei lagi, usiamu bukan anak usia 18 tahun” Semua terasa seperti bunyi alarm yang berbunyi setiap saat dan dimana saja. Rasanya aku ingin lari ke luar negeri mengungsi beberapa tahun dan kembali-kembali bawa suami, itu pikirku jika sedang di gempur dengan pertanyaan kapan menikah?
Lalu sahabatku yang baru saja menikah menyarankan agar aku bersikap agresif, gesit dan maksa laki-laki untuk menikah. Aku geleng-geleng kepala rasanya aku malu jika seperti itu, orang membombardir kapan nikah itu rasanya seperti polisi yang nanya tersangka yang harus di jawab dengan jawaban yang pasti. Rasanya jika pun ada orangnya (jodohnya) ya saya akan undang semua, kalemin aja rasanya ingin seperti itu. Tapi??? Kesunyian memang tidak bisa di bohongi, banyak orang yang belum menikah dan melakukan berbagai macam cara agar tidak menjadi beban dalam hidupnya
Ada yang hobi nulis status di medsos
Nyalurin hobi
Ada yang senang travelling dan shoping
Menyibukkan diri dengan pekerjaan

Macam-macam yang penting jangan sampai depresi saja. Aku percaya pernikahan (di pertemukannya kita dengan pasangan kita) itu merupakan drama kehidupan yang waktu dan tempatnya sudah di rancang sedemikian sempurna sebagai kado istimewa yang di berikan Tuhan untuk semua hambanya. Semua sudah ada dalam takdirnya. Namun sekarang bagaimana kita beusaha dan berdoa tiada henti, jangan cemas dengan perkataan orang. Mereka asal bicara karena mereka tidak pernah tahu posisi orang seperti kita, di usia yang seperti ini belum berjumpa dengan kekasih hati. Sudah lah berpikir poistip aja , jangan mikir yang aneh-aneh.


/>

0 komentar:

.comment-content a {display: none;}